Minggu, 19 Mei 2013

Beranda » » Kritik Pemerintah Perihal Masyarakat Miskin Melalui Jangan ...

Kritik Pemerintah Perihal Masyarakat Miskin Melalui Jangan ...

Jakarta - Film Jangan Menangis Sinar merupakan film yang diangkat dari kisah nyata seorang anak kecil dari Desa Riso, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Film besutan sutradara kawakan, Yan Senjaya ini berkisah tentang gadis berusia enam tahun yang merawat ibunya yang lumpuh sendirian.

Ada sebutir cinta yang lebih bening dari setiap tetesan embun yang turun membasuh sebuah dusun terpencil di Desa Riso. Sebutir cinta yang bertahta diatas untaian syair lembut dari seorang gadis kecil bernama Sinar.

Dalam kisah nyatanya, walaupun baru berumur empat tahun, Sinar yang diperankan Anggita Anjani senantiasa mendampingi dan merawat Murni (Yulia Rachman), sang ibunda yang dari waktu ke waktu hanya terbaring tanpa daya karena sakit.

Sinar dan Murni hanya hidup berdua di rumah yang sangat sederhana, terpelosok di tengah hutan dan jauh dengan rumah tetangga lainnya. Dengan keadaan Murni yang lumpuh, anaknya yang setiap hari merawat ibunya. Dari mulai memasak, memandikan, mencuci baju, menyuapi makan sampai membantu buang air.

Sinar jugalah yang mengatasi setiap permasalahan rumah tangga, seperti membetulkan perabot yang rusak hingga mengusir ular yang masuk ke dalam rumah. Sinar masih duduk di kelas satu SD. Untuk bisa sampai ke sekolahnya, ia harus menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Tiga sungai harus ia lewati.

Kisah kidup Sinar terkuak setelah Charly “Setia Band” Van Houtten datang menyambangi rumahnya. Melihat kondisi memprihatinkan itu, Charly tersentuh. Ia lantas mengutarakan uneg-unegnya kepada Ki Kusumo. Gayung pun bersambut. Produser muda ini akhirnya bersedia mengangkat kisah hidup Sinar ke layar lebar.

“Film drama keluarga yang mengharu biru ini tak hanya sebagai tontonan, tapi juga tuntunan. Sinar adalah potret kecil dari jutaan anak Indonesia, meski hidup miskin namun tetap mau sekolah dan berbakti pada orangtuanya,” ujar Ki Kusumo.

Lelaki yang juga berprofesi sebagai konsultan supranatural ini berharap, perjuangan Sinar bisa menjadi cermin untuk lebih peduli terhadap nasib anak-anak miskin. Menariknya, sebagian keuntungan film tersebut nantinya bakal disumbangkan ke keluarga Sinar dan untuk pengobatan sang ibu.

Charly pun mengisi soundtrack film dengan judul yang sama Jangan Menangis Sinar. Selain Charly Setia Band, film produksi Putra Kusuma Pictures ini juga akan dibintangi Ki Kusumo (Pak Kades), Terry Putri sebagai Irma guru Sinar, Yatti Surachman (Nenek Ida) dan Riyanto RA berperan sebagai Arief guru Sinar. Sementara sahabat Sinar dipercayakan pada Axel Putra Kusuma.

Meski dalam filmnya terdapat sedikit adegan humor, namun hal tersebut tak menghilangkan pesan yang ingin disampaikan. Diyakini penonton dapat menguras air mata. Beberapa titik memang diakui tidak sama persis. Namun dengan adanya humor, tontonan terasa menjadi lebih segar. Secara pesan masih tertangkap dengan baik.

Fenomena sosial yang memilukan dan dituangkan lewat film ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat agar sadar bahwa masyarakat juga punya tanggung jawab moral agar tidak terjadi pada Sinar lainnya. Hal ini menjadi tamparan bagi pemerintah karena terlalu sibuk urus urusan sendiri dan tidak memperhatikan nasib kaum miskin di Indonesia.

Diharapkannya dengan tayangan film ini pula, akan menjadi contoh anak-anak Indonesia, karena menampilkan kejujuran dan berbakti pada orang tua. Bisa dikatakan film ini sebuah sentilan pembelajaran agar bisa merasakan betapa masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan. Film ini akan tayang di bioskop mulai 16 Mei 2013.

http://www.beritasatu.com/hiburan/113908-kritik-pemerintah-perihal-masyarakat-miskin-melalui-jangan-menangis-sinar.html