Minggu, 19 Mei 2013

Beranda » » Sepenggal Kenangan Bersama Veven Wardhana

Sepenggal Kenangan Bersama Veven Wardhana

TEMPO.CO, Jakarta - Sastrawan yang juga wartawan senior, Veven SP Wardhana, yang meninggal dunia pada Jumat, 17 Mei pukul 01.30 dinihari meninggalkan banyak kenangan. Dia dikenal sebagai sosok guru, pemberi semangat, dan penyuka humor.

Tahun 1996 hingga 1997, Veven pernah menjadi editor untuk Tempo Interaktif (sekarang Tempo.co). Situs yang dibuat setelah setelah Majalah Tempo dibereidel awalnya hanya dikerjakan oleh tim kecil, antara lain almarhum Yusril Djalinus, Bambang Bujono, Toriq Hadad, Bina Bektiati, dan Hadriani Pudjiarti. Ketika itu, ada beberapa mahasiswa yang menjadi wartawan untuk situs ini antara lain Ali Nuryasin, Mustafa Ismail, Edy Budiyarso, Wenslaus Manggut, dan Iwan Setiawan. Belakangan bergabung mantan wartawan Bernas, Yogyakarta, Purwani Diyah Prabandari.

Dalam penerbitan awal Tempo Interaktif, setiap malam Veven, Toriq Hadad, dan Wahyu Muryadi--saat itu Wahyu juga wartawan dan editor di Majalah Forum Keadilan, menjadi penyunting naskah berita yang ditulis para wartawan Tempo Interaktif.

"Mas Veven pribadi yang kalem, tenang, tidak banyak omong. Biasanya kalau mengedit berita Mas Veven memilih berada di meja paling sudut. Kalau kami sering senda gurau dan ketawa, Mas Veven sangat diam dan tenang mengerjakan tugasnya," kata Edy Budyarso, yang kini produser di RCTI.

Namun, di balik kediaman Veven, banyak contoh positif yang dilakukannya. "Dari Mas Veven saya diajari menulis sesuatu dengan muatan kalimat sastra, tapi tetap ringan bisa dikunyah atau dipahami untuk masyarakat umum. Saat itu, dia guru dan pemberi semangat mengajari kami menulis," kata Edy.

Veven pada masa Tempo Interaktif....

http://www.tempo.co/read/news/2013/05/17/219481196/Sepenggal-Kenangan-Bersama-Veven-Wardhana